bot 0 Posted Rabu, jam 00:13 Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah[1] terpuruk ke level Rp16.611 per dolar Amerika Serikat[2] (AS) pada penutupan perdagangan Selasa (25/3). Nilai ini tercatat terendah sejak 1998 yang pernah tembus Rp16.800 per dolar AS. Bahkan, di tengah perdagangan kemarin, sekitar pukul 10.00 WIB, rupiah sempat berada di level Rp16.635 per dolar AS. Kondisi ini terjadi setelah sebelumnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga anjlok hingga hampir 7 persen sehingga perdagangan sempat dihentikan sementara. ADVERTISEMENT SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT Apabila melihat ke belakang, posisi rupiah kali ini juga mengalahkan saat pandemi covid-19 melanda, kala itu mata uang Garuda hanya anjlok ke level Rp16.550 per dolar AS. Padahal, tidak ada hal tak terduga seperti pandemi yang menghampiri Tanah Air. Analis Mata Uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan sentimen yang mendorong rupiah makin terpuruk berasal dari dalam dan luar negeri. Dari luar negeri, rupiah dibebani oleh data perekonomian AS yang baru saja dirilis seperti PMI Jasa yang ternyata lebih tinggi dari perkiraan. Lalu, ada juga peningkatan permintaan dolar AS jelang libur panjang sehingga terjadi 'shock' di pasar keuangan. "Pidato FOMC member Bostic yang hawkish juga turut memberikan tekanan pada rupiah," kata Lukman kepada CNNIndonesia.com. Sentimen luar negeri, kata Lukman tidak hanya mempengaruhi rupiah, tetapi juga mata uang negara Asia lainnya. Kendati, Indonesia memang lebih tertekan karena situasi dalam negeri yang tidak stabil imbas kinerja APBN yang mengecewakan. "Mata uang regional juga melemah, namun rupiah khususnya sentimen domestik juga masih jelek terutama kekhawatiran fiskal pemerintah," kata Lukman. Berdasarkan data Kementerian Keuangan, kinerja APBN hingga akhir Februari 2025 memang mengkhawatirkan, di mana pendapatan negara baru tercapai Rp316,9 triliun atau 10,5 persen dari target tahun ini sebesar Rp3.005,1 triliun. Di sisi lain, belanja negara negara terealisasi sebesar Rp348,1 triliun, atau 9,7 persen dari target tahun ini sebesar Rp3.621,3 triliun. Dengan kondisi pendapatan lebih rendah dari belanja, maka APBN tercatat mengalami defisit Rp31,2 triliun atau 0,13 persen dari produk domestik bruto (PDB). Beda dengan tahun lalu yang pada periode yang sama justru surplus. Sementara, Presiden Direktur PT Doo Financial Futures Ariston Tjendra melihat ada tiga biang kerok yang mempengaruhi pelemahan rupiah. Pertama, kekhawatiran pasar soal perang dagang yang dipicu oleh kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump terhadap berbagai negara. Terbaru, Trump mengancam bakal mengenakan tarif 25 persen kepada negara manapun yang membeli minyak dari Venezuela. Sebab, Negeri Paman Sam itu mengklaim Venezuela itu sengaja mengirim penjahat ke negaranya dan menjadi AS sebagai musuh. "Perang dagang ini bisa memicu penurunan perdagangan global sehingga perekonomian global menurun," kata Ariston. Kedua, konflik perang di Timur Tengah dan di Ukraina-Rusia yang tampaknya belum ada tanda-tanda selesai. Bahkan, setelah Trump berusaha untuk mendorong kesepakatan perdamaian dengan mempertemukan Vladimir Putin dan Volodymyr Zelenskyy, namun gagal. "Belum lagi konflik perang di Timur Tengah yang masih tensinya masih tinggi, ditambah perang Ukraina Rusia yang belum juga bisa didamaikan," jelasnya. Ketiga, kondisi rupiah tentu tidak bisa lepas dari situasi dalam negeri. Sama dengan Lukman, Ariston melihat kebijakan pemerintah membuat masyarakat meragukan kondisi perekonomian di dalam negeri. Apalagi, daya beli masyarakat yang rendah sejak tahun lalu masih belum pulih. "Pesimisme pasar terkait pertumbuhan ekonomi Indonesia juga menambah tekanan ke rupiah," terangnya. Bersambung ke halaman berikutnya... Untung Rugi Pelemahan Rupiah Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution Ronny P Sasmita mengatakan apabila rupiah melemah dan dolar menguat, maka akan menguntungkan bagi eksportir. "Kelebihannya ya bagi eksportir lah, pasti senang lah. Kalau dolar menguat, rupiah melemah mereka akan mendapatkan kelebihan keuntungan. Walaupun mungkin volume barang yang diekspor itu sama," kata Ronny. Pelemahan rupiah juga dinilai akan menguntungkan bagi investor. Sebab, nilai investasinya di Indonesia akan jadi lebih kecil karena mata uang Garuda yang murah. "Jadi lebih murah berinvestasi di Indonesia, harga saham di pasar modal juga kan dibanderolnya pakai rupiah, mereka datang pakai dolar, lalu saat dikonversikan kan rupiahnya jauh lebih banyak, sehingga bisa mendapatkan saham yang jauh lebih banyak, surat utang yang jauh lebih banyak, dan lain-lain gitu," terangnya. Sementara kerugian apabila rupiah melemah adalah harga barang yang akan makin mahal, terutama yang berorientasi impor. Kondisi ini akan mendorong inflasi makin besar di tengah pelemahan daya beli yang tak kunjung pulih. "Cuma ya yang jelas ini akan mengalami inflasi barang-barang yang mempunyai bahan baku impor, bahan setengah jadi impor, atau bahan pembantu impor itu akan berpengaruh terhadap harganya," jelas Ronny. Selain itu, pembayaran bunga utang dan utang luar negeri yang berbasis mata uang dolar AS bakal makin mahal. Solusi Meredam Tekanan Rupiah Lukman melihat satu-satunya cara yang bisa dilakukan pemerintah adalah mendukung Bank Indonesia (BI) meredam tekanan lebih dalam terhadap rupiah. Sembari pemerintah juga menjaga belanja agar APBN tak makin boncos. "Untuk saat ini mungkin tidak banyak. BI mesti terus intervensi. Pemerintah harus menjaga pengeluaran dan menjaga defisit," kata Lukman. Senada, Ariston melihat memang BI harus segera bertindak sembari pemerintah juga mengembalikan kepercayaan investor yang 'was-was' akibat kebijakan pemerintah saat ini. [Gambas:Photo CNN][3] "Kalau jangka pendek, BI harus intervensi dan mungkin mengubah kebijakan moneternya untuk sementara menahan laju pelemahan rupiah. Pemerintah meningkatkan kepercayaan investor dengan mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang pro investor, kebijakan yang meningkatkan suplai dollar di dalam negeri," ujar Ariston. Apabila tidak ada tindakan meredam pasar, maka Ariston melihat pelemahan rupiah bisa terus berlanjut lebih jauh ke level Rp16.700 sampai Rp16.800 per dolar AS. ====[4] Untung Rugi Pelemahan Rupiah dan Solusi Menahan Pelemahannya --[5] References^ rupiah (www.cnnindonesia.com)^ dolar Amerika Serikat (www.cnnindonesia.com)^ [Gambas:Photo CNN] (cnnindonesia.com)^ ==== (www.cnnindonesia.com)^ -- (www.cnnindonesia.com)Sumber Share this post Link to post Share on other sites